BJ Habibie

Visi BJ Habibie di tahun 1975
Pada tahun 1974 Ibnu Soetowo menjemput BJ Habibie di Bonn, Jerman
Barat. Ibnu memaksa Habibie pulang. Sebelumnya Ibnu bilang ke Suharto
"ada anak muda Indonesia jadi boss pesawat disana" Suharto bertanya,
"Siapa.?? " Ibnu bilang "BJ Habibie" Suharto tersenyum dan bilang pada
Ibnu, 'Saya kenal baik dengan orang tuanya'. Uniknya Ibnu tau soal
Habibie ketika pemerintah Filipina dibawah Marcos berencana akan ambil
Habibie.
Di Jakarta BJ Habibie bertemu dengan Suharto bicara 3
jam di Jalan Cendana no.8. Pak Harto meminta Habibie membuat blueprint
soal pengembangan industri perangkat keras di Indonesia. Anak muda
berusia pertengahan 30-an tahun itupun membuat apa yang namanya
blueprint industri teknologi maju. BJ Habibie menjelaskan pada Suharto
"Kelak Indonesia amat butuh pesawat". Mendengar penjelasan Habibie ini
Suharto ingin mendapatkan penjelasan 'second opinion' dari ekonom dan
ahli sosial. Saat itu ekonom Radius Prawiro paling dekat dengan Suharto
karena bisa berkomunikasi dengan cara-cara Jawa, baik Suharto dan Radius
memang orang Yogya. Kesantunan ala Jawa Keraton amat dijunjung tinggi
Suharto karena itu basis strategi dia dalam mengembangkan kekuasaan.
Radius bilang "Pertumbuhan demografi di tahun 2000 akan meledak luar
biasa, Indonesia bisa tinggal landas dua tahap 1988 dan 2000. Nah tahun
2000 bisa dikatakan adalah tahun paling penting dalam merangkai negara
kepulauan menjadi rangkaian pelabuhan-pelabuhan besar dan kota-kota
baru". Suharto mulai memahami statement Habibie, "Pesawatlah yang akan
jadi bisnis raksasa masa depan, bukan mobil".
Lalu dipanggil
lagi BJ Habibie, konsepnya dikembangkan pesawat sederhana, tapi sayang
industri pesawat dikuasai Amerika Serikat dan Jerman pada saat itu.
Sementara Habibie tidak mendapatkan bantuan dari kedua negara, mereka
takut Indonesia bisa merebut industri pesawat, akhirnya perusahaan
Spanyol yang memberikan bantuan alih teknologi.
Waktu ekonom
pada marah-marah soal borosnya BJ Habibie, Suharto hanya tersenyum dan
bilang "Kita ini sedang menanam, menanam dan menanam nanti bila besar
kita akan panen teknologi".
Banyak pengeritik Suharto yang
melihat IPTN adalah proyek gagah-gagahan, proyek mercusuar. Tapi kritik
akan mati sebagai kritik, dia tenggelam dalam fakta. Sekarang kebutuhan
pesawat murah luar biasa tinggi, Lion Air pesan puluhan pesawat Boeing,
seandainya saat ini IPTN bisa memenuhi 30% saja kebutuhan pesawat di
Asia maka Indonesia bisa menjadi nomor satu Industri Dirgantara.
Lalu siapakah pengkritik Suharto dan BJ Habibie, mereka adalah ekonom
didikan Amerika Serikat, mereka adalah generasi yang diinferiorkan,
dilemahkan mentalitasnya dengan dogma ekonom ala Amerika Serikat tapi
hasilnya ekonomi konsumtif, inilah kenapa Suharto pernah percaya sekali
dengan ekonom produktif model BJ Habibie, sayang yang tak mengerti
kedaulatan ekonomi mengartikan ekonomi zig zag ala BJ Habibie disebut
sebagai 'Ekonomi orang Gila'. Padahal apa yang dilakukan BJ Habibie
adalah menghilangkan ketergantungan industri transportasi, pertama kali
yang akan dibangun adalah industri pesawat lalu industri perkapalan
kemudian industri-industri lain terseret.
Visi BJ Habibie di tahun 1975 ternyata benar...............
(diolah dari berbagai sumber)
https://www.facebook.com/PeluangUsahaOfficial/posts/10151462813432510
Tidak ada komentar:
Posting Komentar